Wajah Terminal Tambak Oso Wilangun Kedepan

Dalam rangka mengikuti program pemerintah Kota Surabaya yang rencananya akan difokuskan pada pengembangan wilayah Surabaya bagian barat, Dinas Perhubungan Kota Surabaya berencana melakukan beberapa pembenahan pada terminal besarnya di wilayah barat Surabaya yaitu terminal Tambak Oso Wilangun. Sebagai terminal type A, fasilitas utama secara umum memang sudah terpenuhi, namun perlu adanya pengembangan fasilitas pendukung lebih jauh lagi guna tercapainya sistem pelayanan yang memuaskan. Oleh karena itu, dishub surabaya telah menyiapkan kerangka rencana pengembangan yang nanti akan dilakukan untuk terminal tersebut. Selain aspek angkutan umum, hal lain yang nanti menjadi fokus pengembangan adalah perluasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam terminal.

Untuk aspek angkutan umum, pengembangan dilakukan dengan menambah jumlah jalur keberangkatan. Jalur keberangkatan yang semula hanya 7 jalur akan ditambah menjadi 10 jalur, di mana 1 jalur untuk jalur bebas dan 9 jalur untuk trayek-trayek kendaraaan yang sudah ditentukan. Dengan bertambahnya jumlah jalur keberangkatan ini, diharapkan akan memudahkan para calon penumpang yang hendak melakukan perjalanan dengan tujuan area pantura seperti Jakarta, Cirebon dan Semarang.

Selain penambahan jalur keberangkatan, Dishub juga berencana memindahkan arah sirkulasi keluar-masuknya kendaraan ke terminal. Pintu masuk yang semula berada di sisi selatan terminal nanti akan dipindah ke sisi utara. Plt Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya, Eddi, MM menyatakan,”Tujuan utama pengalihan pintu masuk kendaraan ini adalah karena faktor ergonomis dan keamanan”. Saat ini, ketika penumpang turun dari bus, maka mereka tidak bisa langsung menghadap ke arah ruang tunggu kedatangan (posisi pintu bus adalah sebelah kiri). Untuk masuk ke ruang tunggu, mereka harus berjalan melewati bagian belakang kendaraan. Hal tersebut dapat beresiko pada keselamatan penumpang. Dengan dipindahkannya jalur kedatangan menjadi sisi utara, maka penumpang yang turun dari bus dapat langsung berjalan menuju ke ruang tunggu terminal tanpa harus melewati bagian belakang maupun bagian depan kendaraan.

Untuk aspek Ruang Terbuka Hijau (RTH), selain mengembangkan bangunan secara vertikal, Dishub juga berencana membuat taman di area parkir belakang, ruang tengah serta area parkir depan terminal. “Dengan adanya taman ini, para calon penumpang bisa menikmati pemandangan hijaunya sembari menunggu keberangkatan bus yang akan mereka tumpangi. Selain itu ke depannya taman tersebut juga berfungsi untuk mengurangi polusi udara serta memberi kesan terminal yang asri”, ujar Kepala Bidang Sarana Prasarana Transportasi, Irvan Wahyudrajad, M.MT.

Fasilitas pendukung yang juga akan ditambahkan adalah ruang khusus untuk ibu menyusui, ruang khusus untuk orang-orang yang merokok, serta area khusus untuk orang-orang cacat dan lansia. Lahan parkir untuk sepeda motor juga akan diperluas secara vertikal (bangunan bertingkat) sehingga nantinya memiliki kapasitas hingga 300 unit sepeda motor. Dari segi teknologi, sistem IT di terminal untuk seluruh jenis kendaraan rencananya akan diintegrasikan dengan sistem gate (mengadopsi sistem IT di bandara). Terakhir, landmark terminal akan dibuat seunik mungkin sehingga terminal ini bisa juga dijadikan sebagai salah satu ikon untuk wilayah Surabaya barat.

Advertisements

Pemaparan Hasil WTN oleh Kementrian Perhubungan

Setelah melakukan penilaian ketiga dalam rangka lomba Wahana Tata Nugraha 2011, tim penilai dari Kementrian Perhubungan, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat memaparkan hasilnya di ruang sidang walikota Jl. Jimerto Surabaya hari ini (Jum’at, 18/11/2011). Agenda yang dipimpin langsung oleh walikota Surabaya Tri Rismaharini tersebut dihadiri oleh para Kepala Dinas dan Kepala Bidang dari berbagai SKPD terutama Dinas Perhubungan Kota Surabaya. Sedangkan dari Tim Kementrian diwakili oleh Andaru sebagai ketua tim, joko dan felix. Dalam pertemuan yang berlangsung kurang lebih 2 jam banyak membahas hasil penilaian dan rencana jangka menengah antara 2009- 2015 yang dimiliki kota Surabaya khususnya sektor transportasi.


Andaru menyatakan bahwa kota Surabaya sudah memiliki infrastruktur yang bagus untuk sistem lalu-lintas dan transportasi. Hal ini ditunjukkan dari tersedianya sarana baik bagi pengguna jalan roda empat, roda dua maupun pejalan kaki. Selain itu pelayanan berbasis informasi dan teknologi yang diterapkan di jalan raya dan yang diberikan oleh unit pelayanan terminal dan pengujian kendaraan bermotor di Tandes membuat warga menjadi tertib dan sangat terbantu.

Ketua tim tersebut juga menambahkan agar Pemkot Surabaya lebih memperhatikan angkutan umum agar dapat bersinergi dengan terminal. “Semua kriteria penilaian (di kota Surabaya) sudah terpenuhi dan sangat memuaskan. Namun sebaiknya angkutan umum dan terminal lebih bersinergi.”
Menanggapi temuan hasil dari Tim penilai, Tri Risma memaparkan, “Pemerintah Kota Surabaya terus membenahi angkutan umum dan sedang berusaha menyelesaikan pekerjaan angkutan massal yang terdiri atas trem dan monorel sebelum 2015 karena (pekerjaan angkutan massal) sudah masuk dalam RPJMD kota Surabaya.”
Masih terkait dengan angkutan massal, Pemkot Surabaya juga akan melakukan pengaturan rute asal dan tujuan serta membentuk badan usaha yang mengakomodasi kepemilikan angkutan umum yang ada sekarang ini. Hal ini dilakukan karena selama ini kepemilikan angkutan umum masih atas nama perorangan sehingga pelayanan di setiap moda yang ada sekarang tidak memiliki standar yang sama baik dalam hal kenyamanan kendaraan, ketersediaan armada dan ketepatan waktu.
“Baik angkutan umum maupun angkutan massal harus mengikuti UU LLAJ (Undang-Undang Lalu-lintas dan Angkutan Jalan) dimana pengelolanya adalah badan usaha dalam hal ini koperasi. Kita akan rerouting trayek yang ada, agar lebih efisien dan dapat menjangkau seluruh kota.” Ujar Eddi  selaku Plt Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya.

Sinkronisasi antara hasil temuan dan rencana jangka menengah dari Pemkot Surabaya diharapkan dapat menjadi pedoman dalam melakukan revitalisasi dan manajemen sistem transportasi di kota Pahlawan.(erk)

Tingkat Kecelakaan H-7 Sampai H+7 di Jawa Timur


Lebaran yang tahun 2011 harus diwaspadai oleh para pemudik, hal ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah kecelakaan lalu lintas jalur darat di Jawa Timur pada saat H-7 sampai H+7 yang semula pada tahun 2009 terjadi 245 kecelakaan meningkat menjadi 391 kecelakaan pada tahun 2010. Penyebab dari meningkatnya kecelakaan karena semakin banyaknya jumlah masa yang melakukan mudik baik itu mudik maupun arus balik yang dilakukan pada saat bersama-sama.
Uraian 2009 2010
Jumlah Laka 245 391
Meninggal Dunia 105 81
Luka Berat 141 45
Luka Ringan 360 176
Sumber : Data Analisis dan Evaluasi (ANEV) Ditlantas Polda Jatim
(Jawa Pos, 1 Agustus 2011)
Meningkatnya jumlah kecelakaan yang terjadi membuat Dishub LLAJ Jatim mensiagakan 131 bus untuk mudik gratis untuk mengurangi angka kecelakaan dan sekaligus mengurangi kemacetan yang terjadi pada saat H-7 sampai dengan H+7. Dishub LLAJ Jatim membuka kesempatan kepada 7.000 penumpang untuk mudik gratis dari Surabaya menuju 12 daerah dengan rute, Situbondo-Banyuwangi, Jember-Banyuwangi, Bondowoso, Malang-Blitar, dan Kertosono-Tulungagung-Trenggalek. Selain itu juga Madiun-Magetan, Karangjati-Ngawi, Madiun-Ponorogo-Pacitan, Bojonegoro-Tuban, Nganjuk, Kediri, dan Pamekasan-Sumenep.[Set]

Libur Natal dan Tahun Baru 2011 Dishub Siapkan 174 Personil


………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Sebanyak 174 personil Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya di terjunkan selama pelaksanaan pemantauan kegiatan penyelenggaraan angkutan natal 2010 & tahun baru 2011.

“Tahun 2010 kali ini Dishub menempatkan sejumlah personil di beberapa titik di kota surabaya untuk pengamanan serta pemantauan penyelenggaraan angkutan natal dan tahun baru”, tutur H.Subagio Utomo, SH, MM selaku Kepala Seksi Penertiban Bidang Pengendalian dan Operasional.

Kegiatan yang dimulai kamis 23 Desember 2010 hingga 3 Januari 2011 ini meliputi memantau/ melaksanakan penataan dan pengaturan parkir di area kegiatan natal dan tahun baru serta melaksanakan pengawasan kelancaran lalu lintas di sekitar gereja tempat berlangsungnya acara perayaan natal.

Untuk memberikan layanan operasional yang lebih pada malam natal dan pergantian tahun, Dishub mendirikan beberapa posko diantaranya di Terminal Purabaya, Terminal Tambak oso Wilangun serta Terminal Joyoboyo. Sedangkan untuk pemantauan kegiatan melalui alat komunikasi dipusatkan di kantor Dishub, Dukuh Menaggal.

Selain itu Dishub juga mempersiapkan sejumlah armada bus untuk membantu arus mudik. “Walaupun arus mudik tidak sepadat lebaran idul fitri, kami akan tetap antisipasi” imbuh Subagio. Persiapan lainnya yang dilakukan di terminal diantaranya, pemeriksaan armada yang meliputi kelengkapan administrasi kendaraan (STNK, Buku Uji, kartu pengawas), Persyaratan teknis dan laik jalan kendaraan. Serta yang tak luput dari pemeriksaan kali ini adalah pemeriksaan kondisi kesehatan pengemudi dimana yang akan dikoordinasikan dengan posko kesehatan yang telah tersedia.

Untuk lebih memperlancar kinerja porsonil di lapangan, Dishub akan selalu berkoordinasi dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan keamanan dan keselamatan bagi para calon penumpang.

Sumber : Dinas Perhubungan Kota Surabaya

Penggunaan BBG untuk Angkutan Umum di Kota Surabaya

Penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG) sebagai alternatif pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk sektor transportasi saat ini mulai dihidupkan kembali. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya bekerjasama dengan Kementrian Perhubungan Direktorat Jendral Perhubungan Darat berupaya untuk mensosialisasikan program penggunaan BBG untuk transportasi khususnya angkutan umum/ mikrolet.

Penggunaan BBG untuk transportasi dalam rangka peningkatan pemanfaatan gas bumi ini juga ditunjang dengan bantuan Converter Kit sebanyak 445 unit dari Kementrian Perhubungan. “saat ini baru 62 kendaraan/ angkutan umum yang dipasang conventer kit”, tutur Kepala Seksi Angkutan Darat Dinas Perhubungan Kota Surabaya Endri Sutjahjo, A.md LLAJ,ST,MM

Secara teknis kinerja mobil ber-BBG itu didukung oleh conversion kit, peralatan yang memungkinkan mobil bergerak dengan bahan bakar gas. Pertama, gas dimasukkan ke tabung melalui wadah pengisian. Lalu, BBG disalurkan ke tangki gas di tubuh mobil. Setelah tekanannya diturunkan, gas–dengan suatu cara–bercampur dengan udara, yang lalu masuk ke mesin untuk dibakar. Tetapi, dengan suatu cara pula, kendaraan ber-BBG dapat kembali menggunakan BBM.Dengan alat converter ini, mobil atau motor bisa dual switch. Jika tidak ada BBG, bisa kembali ke premium. Jadi, tidak ada kesulitan.

Dalam pemasangan converter ini kami sudah menunjuk bengkel yang dapat membantu pemasangan alat ini, tambah Endri Sutjahjo

Keuntungan penggunaan BBG untuk transportasi yang dapat kita rasakan bersama, diantaranya udara akan jauh lebih bersih karena pembakaran lebih sempurna (dengan Oktan 104 pada propane). Manfaat lain yang dapat dirasakan, subsidi BBM yang selama ini kita nikmati dapat dialihkan untuk kebutuhan lainnya karena cadangan gas di Indonesia masih mencukupi.

BBG merupakan bahan bakar ramah ligkungan, sebagaian besar (sekitar 85%) komponen gas bumi yang telah dimurnikan ini terdiri dari gas metana dan etana. Selebihnya gas propana, butana, pentana, nitrogen, dan karbondioksida. BBG lebih ringan dari udara, dan mempunyai nilai oktan 120.

Sumber : Dinas Perhubungan Kota Surabaya

Dishub Tingkatkan Pelayanan Dengan Alat Uji Mobile

Para pengguna jasa pengujian Kendaraan Bermotor (PKB) sekarang mempunyai pilihan untuk melakukan uji kir kendaraan mereka. Pada hari Jum’at 12 Nopember, Dinas Perhubungan mensosialisasikan Penggunaan Alat Uji Mobile ini kepada petugas uji di lingkungan Dishub Kota Surabaya. Mobil yang dilengkapi dengan pendingin udara dan beberapa interior pendukung ini, dimaksudkan untuk memberikan pelayanan yang lebih kepada masyarakat dalam melakukan uji kir.

Secara penggunaan, alat uji mobile dengan alat uji yang ada di PKB Wiyung dan Tandes tidak berbeda. Kelebihan dari alat ini, nantinya akan jemput bola/ mobile (keliling). Alat uji mobile ini dapat langsung datang ke lapangan atau juga dapat dipanggil oleh semisal pihak pool taxi untuk pengecekan armadanya. Yang tentunya syarat-syarat dan biaya administrasi tetap mengikuti aturan area PKB. Alat ini nantinya juga menunjang program reguler uji emisi.

Acara yang dimulai tepat pukul 13.00 WIB tersebut, langsung diperagakan bagaimana cara kerja dari 5 alat utama dan beberapa alat tambahan. Tampak alat uji gas buang dibedakan menjadi 2, antara kendaraan yang berbahan bakar bensin dan solar. Alat ini berfungsi mengukur kandungan CO, HC, CO2 dalam emisi kendaraan.Alat ini dilengkapi dengan badan alat ukur, Printer, Aelang Uji Panjang, Prefilter, Pipa Uji, dan Probe. Selain itu alat tersebut juga dilengkapi dengan monitor yang dapat menampilkan hasil dari uji gas buang.

Selain itu diperagakan juga Auto Test Brake Meter, alat ini dipergunakan untuk pengukuran rem pada kendaraan. Dalam penggunaan alat ini sebaiknya dilakukan di permukaan yang rata, hal ini dimaksud untuk menghindari hasil dari pengujian kurang baik dan tidak lulus uji. Selanjutnya ada alat headlight tester yang dipergunakan untuk memeriksa intensitas cahaya, elevasi berkas cahaya dan sumbu optikal dari lampu kendaraan mobil. Sistem kerja dari alat ini, pengaturan jarak lampu alat uji dengan kendaraan yang kemudian pusatkan titik acuan untuk berkas laser. Arahkan berkas laser ke titik acuan secara vertikal sampai kedua titik acuan terkena laser.

Setelah beberapa waktu yang lalu UPTD PKB mendapatkan sertifikat ISO 9001-2008, dengan adanya penambahan armada Unit Pengujian kendaraan Bermotor Keliling Ini dapat meningkatkan mutu pelayanan. Selain itu nantinya diharapkan pula dapat menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah.

Konsep Penerapan BRT di Surabaya Tidak Mengulangi Kegagalan Di Kota Lain

“Warga Kota Surabaya menginginkan angkutan massal (BRT) yang mengutamakan keamanan dan kenyamanan Masyarakat sebagai pengguna angkutan” kata Wakil Walikota Surabaya Bambang Dwi Hartono, Rabu 3 Nopember 2010.

Dalam pertemuan di ruang rapat Sekertaris Daerah (Sekda) yang diikuti oleh Wakil Walikota Surabaya Bambang DH, Dinas Perhubungan (Dishub) KOta Surabaya, Badan Perencana Kota (bappeko) dan Tim Indii dibahas masalah perencanaan project Surabaya Bus Rapid Transit (BRT).Pengoperasian BRT sebagai salah satu cara mengatasi kemacetan dan membangun transportasi yang baik guna mendukung urban mobility (mobilitas perkotaan).

Ada beberapa hal yang dibahas dalam pertemuan tersebut, antara lain arsitektur halte, pengijauan sekitar halte. serta Kapasitas penumpang on bus terutama dalam waktu jam sibuk, pewarnaan jalur khusus BRT, desain bus dan interior bus.

Contoh penerapan BRT di beberapa negara juga dibahas dalam pertemuan tersebut, seperti keuntungan dan kerugian guna mendapatkan sistem BRT yang baik di Surabaya. Beberapa persoalan yang harus diselesaikan juga menjadi pembahasan seperti, mengubah angkutan kota (angkot) yang sudah ada menjadi transportasi publik yang setara dengan BRT dalam hal pelayanan maupun fasilitas. Dimana nantinya angkot ankan menjadi angkutan penunjang (feeder) bagi BRt di Surabaya.

Dalam pertemuan tersebut, Bambang DH juga menekankan penerapan BRT di Surabaya nantinya tidak mengulang kesalahan beberapa kota di Indonesia. Tidak mencontoh dari BRT di kota-kota di Indonesia yang terlalu memaksakan lantai tinggi dan jembatan penghubung penggunaan halte yang terlalu tertutup sehingga rawan kejahatan.

Pembangunan BRT ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan mobilitas perkotaan yang cukup tinggi agar masyarakat merasa aman, lancar dan nyaman dalam menggunakannya, terutama untuk manula dan penyandang cacat. Diharapkan pula Angkutan Massal di Kota Surabaya ini nantinya menjadi model percontohan angkutan massal yang mempunyai ciri khas kota Surabaya.

Idul fitri = Halal Bihalal + Lontong Cap Gomek

Para Pimpinan Dinas Perhubungan Kota Surabaya beserta jajarannya mengadakan halal bihalal pada tanggal 21 September 2010 di pelataran kantor Jl. Dukuh Menanggal No. 1.  Dalam kesempatan ini, Plt Kepala dinas, Kepala Bidang dan Seluruh staf menyambut acara tahunan pasca Lebaran dengan antusias. Diharapkan dalam acara ini seluruh Pimpinan dan staf dapat saling memberikan maaf satu sama lain. lebih jauh lagi, acara halal-bihalal tersebut dapat meningkatkan kinerja lebih baik lagi ke depannya.

Tidak hanya berhenti sampai disitu, setelah saling bermaaf-maafan, acara halal-bihalal dilanjutkan dengan menyantap kudapan lontong cap gomek. Makanan tersebut disediakan oleh bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras) yang bertempat di ruang pengembangan dan bidang Pengendalian dan Operasional (Dalops). Ir.Irvan Wahyudrajad, M.MT selaku Kepala Bidang Sarana dan Prasarana menginformasikan bahwa acara makan-makan tersebut memang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari untuk keperluan acara halal-bihalal di kantor. Menu lontong cap gomek dipilih lantaran makanan tersebut dapat dikonsumsi oleh semua umur. Berbeda dengan gulai yang hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang bebas kolesterol dan asam urat, lanjut pria yang telah menjabat sebagai Kepala Bidang Sarana dan Prasarana sejak tahun 2008. Penulis mendapat informasi dari staf yang tidak ingin disebutkan namanya, bahwa Bidang Sarana dan Prasarana menyiapkan sekitar 100 porsi lontong cap gomek untuk seluruh staf kantor pusat Dinas Perhubungan Kota Surabaya.

Diharapkan dengan adanya halal-bihalal ini seluruh staf dapat saling mempererat tali silaturahmi serta dapat meningkatkan kerjasama dan kekompakan antar bidang tanpa terkecuali.